Kembali ke Blog

3.900 Rumah Tapak Terjual di Jabodetabek Semester I 2026, dan Bentuk Permintaannya Menyerupai Huruf K

Dua ujung pasar bergerak, bagian tengahnya tersendat. Pemecahan lima pita harga dari riset JLL Indonesia menempatkan pembeli rumah Rp 700 jutaan di kelompok yang paling banyak menyerap unit.

Rumah Emerald 70 dua lantai di Kingspoint Bekasi Utara, unit di pita harga Rp 600 juta sampai Rp 1,3 miliar yang menyerap 32 persen penjualan rumah tapak Jabodetabek

Pada Rabu, 19 Agustus 2026, hasil riset pasar kuartal II 2026 milik JLL Indonesia dikutip luas oleh media properti nasional. Isinya satu potret enam bulan pertama tahun ini untuk rumah tapak di Jabodetabek: sekitar 3.900 unit terjual, dengan pasokan baru yang diluncurkan pada periode yang sama sekitar 3.500 unit, dan tingkat penjualan kumulatif menyentuh 90 persen.

Vivin Harsanto, Head of Growth and Strategic Consulting JLL Indonesia, memberi nama pada pola yang muncul dari pemecahan data itu: k-shaped demand. Permintaan bercabang dua arah. Pita bawah dan pita atas sama-sama menyerap unit, sementara pita tengah, kelompok yang selama ini dianggap tulang punggung pasar perumahan Jabodetabek, justru yang paling pelan bergerak.

Angka penjualan yang melampaui angka pasokan baru itu sendiri sudah bercerita. Kalau 3.900 unit terjual sementara yang diluncurkan cuma 3.500, artinya sebagian permintaan terserap dari stok yang sudah berdiri lebih dulu, bukan dari peluncuran baru.

Lima pita harga, dan bentuk yang muncul darinya

Rincian per pita harga inilah bagian yang jarang ikut dikutip, padahal di situ letak informasinya:

Pita hargaPorsi penjualanPosisi dalam pola K
Di bawah Rp 600 juta19%Kaki bawah, menguat
Rp 600 juta – Rp 1,3 miliar32%Penyerap terbesar
Rp 1,3 miliar – Rp 2 miliar22%Bagian tengah, melambat
Rp 2 miliar – Rp 3 miliar9%Paling lambat
Di atas Rp 3 miliar19%Kaki atas, menguat

Catatan: persentase di atas dibulatkan sehingga jumlahnya tidak persis 100.

Gabungkan dua baris tengah dan hasilnya 31 persen untuk seluruh rentang Rp 1,3 miliar sampai Rp 3 miliar. Menurut JLL, porsi itu turun dibanding pola historisnya. Nah, di sinilah huruf K terbentuk: satu garis naik ke kanan atas, satu garis turun ke kanan bawah, dan yang turun adalah bagian yang dulu paling ramai.

Yang menarik, pita Rp 2 miliar sampai Rp 3 miliar tinggal 9 persen, lebih kecil daripada pita di atas Rp 3 miliar yang berada di 19 persen. Jadi bukan sekadar "makin mahal makin sepi". Ada titik di tengah yang lebih sepi daripada titik di atasnya.

Pita Rp 600 juta sampai Rp 1,3 miliar menyerap 32 persen penjualan, porsi terbesar dari lima pita. Rumah dua lantai di rentang Rp 700 jutaan berada di dalam pita ini.

Kenapa bagian tengah yang tersendat

Penjelasan yang disampaikan JLL menunjuk ke kehati-hatian finansial kelompok menengah atas di tengah tekanan suku bunga KPR dan dinamika makroekonomi. Logikanya bisa ditelusuri dari sisi cicilan.

Rumah seharga Rp 2,5 miliar dengan uang muka 20 persen menyisakan plafon sekitar Rp 2 miliar. Pada level bunga yang berlaku sepanjang semester I 2026, cicilan bulanannya masuk ke belasan juta rupiah, dan bank umumnya menahan total cicilan di kisaran sepertiga penghasilan bersih. Konsekuensinya, pembeli di pita ini butuh penghasilan gabungan yang cukup tinggi, dan justru kelompok itulah yang paling cepat menunda keputusan ketika arah bunga belum jelas.

Pembeli di pita bawah punya perhitungan berbeda. Cicilannya lebih kecil secara nominal, jaraknya ke batas rasio penghasilan lebih longgar, dan sebagian besar sedang pindah dari kontrakan atau dari rumah lama yang sudah kesempitan, kebutuhan yang tidak gampang ditunda bertahun-tahun. Di ujung satunya, pembeli di atas Rp 3 miliar sering tidak bergantung penuh pada KPR, sehingga pergerakan bunga acuan tidak langsung mengubah kemampuan bayarnya.

Bagian tengah terjepit di antara keduanya: cukup besar untuk sangat bergantung pada KPR, dan cukup mahal untuk membuat kenaikan bunga terasa nyata di angka cicilan.

Arti angka 90 persen buat orang yang sedang cari unit

Tingkat penjualan kumulatif 90 persen berarti dari seluruh pasokan yang pernah masuk pasar, sembilan dari sepuluh sudah terjual. Sisa stok yang benar-benar bisa dilihat, dimasuki, dan diukur langsung tinggal sepersepuluh.

Buat pembeli, ini memindahkan pertanyaannya. Bukan lagi "berapa banyak pilihan yang ada" melainkan "unit mana yang tersisa di koridor yang saya incar, dan apakah posisinya masih yang saya mau". Soalnya unit yang tersisa di sebuah cluster biasanya bukan yang paling strategis — yang menghadap taman atau dekat gerbang cenderung habis lebih dulu.

Makanya angka nasional semacam ini lebih berguna untuk menentukan urutan langkah ketimbang untuk menentukan waktu beli. Pasokan rumah baru Bodetabek yang menyusut sudah lebih dulu memberi sinyal serupa dari sisi suplai.

Empat hal yang tidak dijawab data ini

Riset JLL berguna untuk membaca arah kawasan, dan berhenti di situ. Batasannya perlu ditulis terang:

  • Skalanya Jabodetabek, bukan Bekasi. Rilis yang dikutip media tidak memuat potongan per kota maupun per kecamatan. Koridor Bekasi Utara bisa bergerak berbeda dari rata-rata kawasan.
  • Yang dihitung rumah tapak. Apartemen dan hunian vertikal tidak masuk dalam angka 3.900 unit ini, sehingga data ini tidak menggambarkan seluruh pasar hunian Jabodetabek.
  • Pita harga memakai harga jual per unit. Bukan harga per meter persegi. Rumah 70 m² seharga Rp 700 juta dan rumah 130 m² seharga Rp 1,2 miliar duduk di pita yang sama, meski nilai per meternya jauh berbeda.
  • Ini potret semester, dan bisa direvisi. Data riset pasar properti lazim disesuaikan pada rilis kuartal berikutnya begitu transaksi yang tertunda pencatatannya masuk.

Yang lebih layak dicek sebelum memutuskan

Data kawasan sebaiknya diletakkan sebagai latar, lalu keputusannya dibangun dari angka yang menyangkut Anda langsung:

  1. Rasio cicilan terhadap penghasilan bersih. Hitung dari sisi ini lebih dulu, sebelum menengok daftar unit. Angka inilah yang menentukan pita harga mana yang realistis buat Anda, bukan sebaliknya.
  2. Sisa stok di koridor yang diincar. Berapa unit yang benar-benar tersisa, di blok mana, dan menghadap ke mana. Angka 90 persen tadi jadi konkret hanya di level ini.
  3. Status legalitas unitnya. Sertifikat induk sudah pecah atau baru terbit nomor identifikasi bidang, PBG dan SLF sudah ada atau belum. Aturan pemecahan sertifikat induk berubah bulan ini dan ikut memengaruhi jadwal akad.
  4. Biaya di sekitar akad. BPHTB, notaris atau PPAT, provisi dan administrasi bank, asuransi jiwa dan kebakaran. Pos-pos ini dibayar tunai di luar plafon KPR dan sering luput dari hitungan awal.

Rumah Emerald 70 di Kingspoint berdiri di angka yang gampang diverifikasi: luas tanah 47,25 m², luas bangunan 70 m², dimensi 4,5 m × 10,5 m, dua lantai, pondasi bor pile, harga Rp 700 jutaan sudah termasuk PPN, dan cicilan mulai Rp 5 juta per bulan. Lokasinya di Jl. Raya Perjuangan, Bekasi Utara: 5 menit ke Stasiun Bekasi, 5 menit ke Summarecon Mall, 10 menit ke Tol Bekasi Barat. Simulasi persisnya dihitung tim penjualan mengikuti plafon yang disetujui bank, karena angka appraisal sering bergeser dari harga jual.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu k-shaped demand di pasar rumah tapak?

Istilah yang dipakai JLL Indonesia untuk permintaan yang bercabang dua arah: pita harga bawah dan pita harga atas sama-sama menguat, sementara pita tengah melambat. Pada semester I 2026 di Jabodetabek, rentang Rp 600 juta sampai Rp 1,3 miliar menyerap 32 persen dan rentang di atas Rp 3 miliar menyerap 19 persen, sedangkan gabungan Rp 1,3 miliar sampai Rp 3 miliar tinggal 31 persen.

Berapa rumah tapak yang terjual di Jabodetabek semester I 2026?

Sekitar 3.900 unit, dengan pasokan baru pada periode yang sama sekitar 3.500 unit dan tingkat penjualan kumulatif 90 persen. Angkanya mencakup rumah tapak di seluruh Jabodetabek, bukan Bekasi saja.

Apakah data ini memuat rincian khusus Bekasi?

Tidak. Rilis yang dikutip media hanya memuat pemecahan berdasarkan pita harga untuk Jabodetabek secara keseluruhan. Kondisi koridor Bekasi Utara bisa bergerak berbeda dari rata-rata kawasan, jadi data ini dipakai sebagai latar, bukan sebagai dasar keputusan atas satu unit tertentu.

Sumber angka: riset pasar JLL Indonesia kuartal II 2026, dengan kutipan Vivin Harsanto selaku Head of Growth and Strategic Consulting JLL Indonesia, sebagaimana dimuat Kompas Properti, 19 Agustus 2026.

Sedang menimbang unit di pita Rp 600 juta–1,3 miliar?

Tim Kingspoint bisa kirim daftar unit Emerald 70 yang masih ready stock di Jl. Raya Perjuangan, Bekasi Utara, lengkap dengan posisi blok, luas tanah, luas bangunan, dan skema KPR-nya.

Chat WhatsApp Sekarang

Bacaan terkait di Kingspoint Blog